SMAN 1 Wonosari senantiasa berupaya untuk meningkatkan keterampilan literasi warganya, mulai dari murid hingga guru dan tenaga kependidikan (tendik). Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan memulai kembali gerakan literasi sekolah melalui kegiatan yang nyata dan terstruktur. Kegiatan 15 menit literasi tiap pagi yang sempat terhenti beberapa saat lalu kini telah dirumuskan ulang menjadi konsep kegiatan literasi yang bukan hanya berfokus pada rutinitas harian yang mungkin terasa membosankan, melainkan pada kegiatan literasi yang dikemas lebih menarik dan tetap bermakna.
Sebagai langkah awal, SMAN 1 Wonosari telah mengadakan kegiatan Literasi Visual pada Jumat (13/2/2026) dengan melibatkan murid kelas XI, guru, dan tendik. Kegiatan ini dirancang untuk melatih murid membaca makna visual, merefleksikan nilai kehidupan, serta mengekspresikan pemahamannya melalui konten digital. Pada pelaksanaannya, para murid dibagi ke dalam dua kelompok besar yang menempati ruang Aula Arjuna dan Aula Bima dengan didampingi oleh wali kelas XI dan sejumlah guru pendamping lainnya. Setelah diberikan penjelasan mengenai konsep dan tujuan kegiatan Literasi Visual oleh para koordinator, yakni Enu Setyawan, S.Pd. dan Amalia Nur Aini, S.Pd., para murid dan pendamping diajak menonton dua buah film pendek yang berjudul “Arti Kebahagiaan” karya Eka Gustiwana dan “Tenang” karya Yura Yunita dan Yandi Laurens.

Enu Setyawan, S.Pd. saat memandu diskusi pada kegiatan Literasi Visual pada Jumat (13/2/2026) di Aula Arjuna SMAN 1 Wonosari
Saat jeda antarfilm, beberapa murid dan guru saling membagikan refleksinya atas film pertama yang telah mereka tonton. Mereka menyampaikan pemahaman akan isi dan pesan film, serta bagaimana mereka memaknai pesan tersebut terkait pengalaman hidup masing-masing. Demikian juga pada akhir film kedua, selain berdiskusi tentang hal yang sama, seluruh peserta juga mengisi Formulir Refleksi dan Apresiasi yang memuat 5 pertanyaan terkait kedua film tersebut. Dan di akhir kegiatan, para murid diminta membuat satu konten visual yang akan diunggah ke akun Instagram pribadi sebagai bentuk refleksi pemahaman terhadap pesan kehidupan dalam film. Pelibatan media sosial murid ini tidak hanya dirasa kekinian, namun juga menjadi sarana belajar murid dalam menggunakan media sosial untuk menyebarkan konten positif dan bermakna bagi pengguna media sosial lainnya.
Literasi Visual ini disambut baik oleh para murid, guru, dan tendik dengan keterlibatan aktif mereka untuk menyimak maupun mengekspresikan pemahaman dan refleksinya akan kedua film, “Arti Kebahagiaan” dan “Tenang”. Dalam sesi Diskusi Jeda, Yunior Adi Praditya dari kelas XI B berkata bahwa film pertama menceritakan hakikat kemanusiaan, dengan pesan moral bahwa kebahagiaan adalah sesuatu yang ada di dekat kita namun kita tidak menyadarinya. Ia juga mengungkapkan kesannya terhadap kegiatan ini. “Jujur saja, literasi secara visual lebih membantu kami menerima makna dengan lebih mudah. Pada saat membaca biasanya kita harus membayangkan dahulu, namun karena sudah tersaji secara visual akan terasa lebih mudah dipahami,” ungkapnya.

Amalia Nur Aini, S.Pd. (kiri) bersama salah satu murid (kanan) saat sesi diskusi setelah menonton film bersama pada Jumat (13/2/2026) di Aula Bima SMAN 1 Wonosari
Sementara itu, salah satu murid lain dari kelas XI C ikut berkomentar mengenai film kedua. “Film pendek berjudul Tenang ini bercerita tentang seorang anak laki-laki yang merindukan almarhum ayahnya, terutama karena ia mulai lupa bagaimana suara ayahnya dahulu. Rasa kehilangan itu membuatnya berusaha mempertahankan kenangan yang tersisa,” ucap Lutfi Lintang Lokahita. “Kehilangan orang yang kita cintai adalah hal yang menyakitkan, tetapi kenangan tentang mereka tetap hidup di hati,” imbuhnya.
Senada dengan Lutfi, Arfina Maya Ismawati, M.Pd. selaku guru pendamping juga terkesan dengan film kedua yang menyadarkan kita bahwa masa lalu bersama orang tersayang tidak akan bisa diulang kembali dan hanya bisa kita kenang. Ia pun menyampaikan pesan mendalam kepada para siswa agar lebih menghargai keberadaan orang-orang tersayang, khususnya orang tua mereka. “Selagi masih diberikan waktu dan kesempatan bersama mereka semua, maka ciptakan dan nikmati momen yang ada agar kita tidak menyesal di kemudian hari. Ingat, jika kalian sedang merasa lelah atau kecewa, jangan pernah meninggikan suara di hadapan mereka jika tidak ingin memberikan luka untuk mereka,” tuturnya.

Beberapa murid berbagi refleksi dan apresiasi terhadap film yang sudah ditonton pada kegiatan Literasi Visual di SMAN 1 Wonosari
Konsep Literasi Visual sendiri dipilih karena kita perlu menyadari bahwa Literasi Abad 21 tidak lagi terbatas pada kemampuan membaca teks tertulis, tetapi juga mencakup kemampuan memahami pesan visual. Digunakannya film sebagai media audiovisual adalah karena film memuat simbol, konflik, dan nilai kehidupan yang dapat ditafsirkan secara kritis, sehingga menjadi sarana yang efektif untuk mengembangkan literasi visual murid. Kegiatan menonton film pendek dalam konteks literasi bukan sekadar aktivitas hiburan, melainkan proses membaca kehidupan melalui bahasa visual. Lewat film, murid memperoleh ruang belajar untuk memahami realitas manusia, konflik batin, relasi sosial, serta nilai-nilai kemanusiaan yang kerap tidak tertangkap melalui teks tertulis.
Dalam kegiatan Literasi Visual, murid diarahkan untuk menyadari empat hal, yakni bahwa visual merupakan teks yang dapat dibaca dan ditafsirkan, setiap cerita memuat perspektif kehidupan, empati dapat tumbuh melalui pengalaman estetis, dan refleksi diri merupakan bagian penting dari pembelajaran. Dengan demikian, literasi visual diharapkan mampu membentuk murid yang tidak hanya menjadi konsumen media, tetapi juga individu yang mampu memahami, menilai, dan memaknai pesan secara kritis dan bijaksana. (*)
Penulis: Brigitta Gun Rinanti
(Narasi konsep dan tujuan program Literasi Visual diambil dari “Panduan Pelaksanaan Kegiatan Literasi Visual SMAN 1 Wonosari” yang disusun oleh Amalia Nur Aini, S.Pd. dan Zahra Fauziah, S.Pd.)
EN
ID
0 Komentar
Untuk mengirimkan komentar silakan login terlebih dahulu!