Dinas Kesehatan DIY, berkolaborasi dengan YAKKUM dan Dinas Kesehatan Gunungkidul, telah menyelenggarakan kegiatan Pertolongan Pertama Pada Luka Psikologis (P3LP) di SMAN 1 Wonosari pada Rabu, 15 Juli 2026, pukul 13.00—15.15 WIB di Aula Bima SMAN 1 Wonosari. Kegiatan ini diikuti oleh perwakilan pejabat serta anggota UKK PIK-R SMAN 1 Wonosari. Pemateri dalam kegiatan ini adalah Ibu Swastika Ayu Normalasari, M.Psi., seorang psikolog dari Dinas Kesehatan.

Ibu Swastika Ayu Normalasari saat memaparkan materi di hadapan para anggota UKK PIK-R SMAN 1 Wonosari
“P3LP bertujuan meningkatkan pemahaman murid mengenai pentingnya memberikan pertolongan pertama kepada seseorang yang mengalami luka psikologis,” ujar Ibu Swastika Ayu.
Dalam pemaparannya, beliau menjelaskan bahwa P3LP merupakan pertolongan berbasis empati yang bertujuan mengurangi tingkat stres melalui kehadiran dan dukungan penuh. Beliau juga menekankan bahwa setiap individu memiliki kondisi psikologis yang berbeda sehingga diperlukan kemampuan untuk memahami perasaan orang lain. Dalam menangani seseorang yang mengalami luka psikologis, hal yang paling diperlukan adalah bersikap tenang.
Materi yang disampaikan meliputi tahap persiapan, yaitu mempelajari kejadian, memetakan kondisi, dan memperhatikan setiap detail yang ditunjukkan oleh individu yang membutuhkan pertolongan. Selain itu, dijelaskan pula tiga prinsip utama P3LP, yaitu memperhatikan, mendengarkan, dan menghubungkan. Pada tahap memperhatikan, penolong diharapkan mampu memberikan perhatian penuh, mengamati kondisi, serta memperhatikan gejala yang muncul. Tahap mendengarkan dilakukan dengan mendengar secara aktif, suportif, dan penuh empati serta membangun kontak yang baik. Sementara itu, tahap menghubungkan bertujuan mengarahkan individu kepada tenaga profesional karena sebagai penolong terdapat batas dalam memberikan bantuan.

Ibu Swastika Ayu Normalasari saat berinteraksi dengan peserta dalam sesi tanya jawab
Setelah penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Sekitar enam peserta mengajukan pertanyaan, yang menunjukkan antusiasme peserta terhadap materi yang dipaparkan. Salah satu pertanyaan yang diajukan peserta adalah mengenai pandangan pemateri terhadap seseorang yang curhat dengan AI. Menanggapi pertanyaan tersebut, Ibu Swastika Ayu menjelaskan bahwa seseorang yang memilih curhat dengan AI biasanya membutuhkan validasi. Menurut beliau, respons AI cenderung mengikuti kemauan pengguna sehingga responnya tidak selalu konsisten. Oleh karena itu, yang perlu dilakukan ketika menghadapi individu seperti itu adalah memberikan kehadiran penuh, mendengarkan dengan empati, serta memberikan validasi yang tepat.
Melalui kegiatan ini, murid dan guru SMAN 1 Wonosari diharapkan memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai tanda-tanda gangguan kesehatan mental dan cara memberikan dukungan awal yang tepat kepada individu yang mengalami gejala tersebut.(*)
Penulis: Naila Arifah Novitasari/Penyunting: Brigitta Gun Rinanti
EN
ID
0 Komentar
Untuk mengirimkan komentar silakan login terlebih dahulu!